Abstract:
Konversi lahan gambut yang tidak dilakukan secara hati‑hati dapat menyebabkan gambut mudah terbakar dan mengganggu seluruh fungsi ekosistemnya. Gambut yang telah mengering berperan sebagai bahan bakar yang selalu siap terbakar, sehingga wilayah tersebut menjadi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kawasan hutan lindung (HL) Liang Anggang, termasuk HL Blok I seluas 960 ha, kondisinya saat ini memprihatinkan karena kegiatan pembalakan liar, kanalisasi, dan konversi hutan yang masih berlangsung. Kanalisasi—meskipun ditujukan untuk pemukiman, pertanian, transportasi air, dan perkebunan—pada praktiknya menciptakan daerah‑daerah yang lebih rentan terbakar. Padahal, lahan gambut seharusnya berada dalam kondisi basah dan aman dari kebakaran, karena fungsi utama HL di lahan gambut adalah penyimpanan air.
Penelitian ini bertujuan memetakan kerawanan kebakaran hutan dan lahan berbasis zonasi tinggi muka air (TMA) gambut di HL Liang Anggang menggunakan analisis data spasial titik‑titik pengamatan TMA gambut, data tutupan lahan, arah angin, tingkat kematangan gambut, dan penyebaran aktivitas masyarakat petani. Peta kerawanan kebakaran yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan strategi pencegahan karhutla agar kawasan tetap aman dan berfungsi sebagai paru‑paru kota Banjarbaru, sumber oksigen, penyerap CO₂, penyimpan karbon, dan penyimpan air tanah. Kawasan ini juga merupakan habitat Galam (Melaleuca leucadendron), jenis endemik Kalimantan yang tumbuh subur dan rapat tanpa ditanam, serta berpotensi dikembangkan sebagai agroekowisata melalui pemanfaatan lahan gambut lanjut kematangan (saprik) untuk budidaya tanaman buah dan hortikultura, yang relatif lebih sulit terbakar dibanding gambut muda tipe fibrik atau hemik.