Abstract:
Biodiversitas merupakan sumber daya paling penting untuk menarik wisatawan. Selain itu, Dalam praktiknya, pemanfaatan biodiversitas sebagai sumber daya ekonomi di industri wisata menimbulkan banyak masalah, terutama penurunan biodiversitas akibat kerusakan habitat alaminya; misalnya, ledakan pertumbuhan ekowisata di Santander, Kolombia, menjadi tantangan baru dalam menghindari penurunan biodiversitas dan habitatnya. Selain itu, banyak satwa liar diperlakukan secara tidak etis dalam industri wisata (misalnya, fenomena mengambil selfie dengan satwa liar dapat mendorong perilaku tidak etis terhadap satwa liar dan bahkan secara tidak sengaja mendorong perdagangan satwa liar). Selain itu, paradoks bahwa individu yang sadar dan memperhatikan keberlanjutan lingkungan, tetapi tidak melakukan apa-apa, masih terjadi dalam kenyataan. Untuk mengatasi masalah itu, terutama terkait dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), diperlukan upaya untuk mengubah perilaku manusia menjadi kesadaran yang kuat terhadap isu-isu keberlanjutan.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran persepsi keberlanjutan (PK), pengetahuan biodiversitas (BIO), dan kesadaran lingkungan (KL) dalam menciptakan perilaku pro-lingkungan (PPL), serta menganalisis peran PK dan BIO terhadap KL yang pada gilirannya menciptakan PPL. Tujuan-tujuan ini sangat penting mengingat kontribusi yang luas dari kesadaran lingkungan (KL) dan perilaku pro-lingkungan (PPL) wisatawan dalam solusi krisis planet tiga dimensi dan model pemasaran hijau, khususnya: (1) Memberikan solusi untuk krisis planet tiga dalam line dengan SDG#15 (kehidupan di darat) untuk melindungi dan menjaga ekosistem darat serta menghentikan penurunan biodiversitas melalui upaya membangun kesadaran dan perilaku wisatawan. (2) Memberikan celah teoretis baru dalam membangun model pemasaran wisata hijau dengan menciptakan kesadaran lingkungan dan perilaku pro-lingkungan wisatawan terhadap konservasi melalui upaya menciptakan atraksi wisata berkelanjutan dan berbasis pengetahuan.