Abstract:
Kendala-kendala dalam proses regenerasi pohon Ulin (Eusideroxylon zwageri T. & B) antara
lain: semakin sulit ditemukan pohon induk, kalaupun ada keberadaannya jauh di pedalaman.
Ulin diketahui tidak dapat berbuah setiap tahun, dan Ulin berbuah tidak serentak untuk masingmasing
daerah. Tunggak Ulin yang masih segar sebagai limbah penebangan memiliki
kemampuan bertunas atau biasa disebut trubusan dan dapat dijadikan alternatif regenerasi
pohon Ulin secara vegetatif. Tujuan penelitian ini adalah pemanfaatan trubusan tunggak ulin
sebagai alternatif untuk regenerasi Ulin di wilayah IUPHHK PT. Aya Yayang Indonesia. Metode
yang digunakan adalah metode observasi secara purposif terhadap trubusan tunggak Ulin
sebanyak 31 batang, kemudian diamati karakteristiknya. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa riap diameter trubusan Ulin relatif cepat, yaitu 0,38 cm/bulan atau 4,6 cm/tahun,
sedangkan riap pohon Ulin pada umumnya sebesar 0,19 - 0,27 cm/th. Riap trubusan ulin
cenderung berangsur-angsur turun, yaitu pada bulan Mei, Agustus dan Nopember berturut-turut:
2,51 cm/bulan; 1,71 cm/bulan dan 1,35 cm/bulan. Ketika tunggaknya masih segar secara terus
menerus trubusan akan diberi asupan nutrisi dari induknya. Ketika trubusan tersebut telah
mandiri mencukupi kebutuhan makanannya dari dalam tanah, sehingga trubusan tersebut terus
tumbuh dan berkembang menjadi pohon Ulin dewasa.