Abstract:
Masyarakat saat ini sangat mudah mengalihfungsikan hutan mangrove untuk penggunaan lain. Padahal hutan mangrove mampu menyimpan cadangan karbon yang lebih besar dibandingkan dengan penutupan lahan berhutan lainnya. Pemantauan kondisi hutan dengan metode pengecekan lapangan dinilai membutuhkan sumberdaya yang terlalu besar, sehingga saat ini pemantauan kondisi hutan dapat dilakukan dengan menggunakan penafsiran indeks vegetasi yang telah dinormalisir (Normalized Difference Vegetation Index / NDVI). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis estimasi cadangan karbon pada hutan mangrove dengan menggunakan kombinasi metode NDVI dan pengecekan lapangan. Metode NDVI digunakan untuk membagi wilayah hutan mangrove menjadi hutan mangrove jarang, sedang, dan rapat. Masing-masing stratum NDVI diwakili oleh 3 ulangan yang tersebar di Kabupaten Kotabaru secara sistematik berjarak 5×5 km. Masing-masing plot berukuran 50×50 meter untuk pengukuran pohon dan nekromassa batang kayu, di dalamnya dibuat plot 0,5×0,5 meter untuk pengukuran tumbuhan bawah, nekromassa seresah, dan karbon tanah. Analisis karbon dengan pendekatan allometrik. Data nekromassa batang kayu, tumbuhan bawah, nekromassa seresah, dan karbon tanah didapatkan dari pengecekan lapangan, sedangkan data pohon merupakan data sekunder dari kegiatan Inventarisasi Hutan Nasional. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa cadangan karbon pada hutan mangrove jarang sebesar 86,96 ton/ha, sedang sebesar 149,41 ton/ha, dan rapat sebesar 184,57 ton/ha. Rata-rata cadangan karbon pada hutan mangrove sebesar 140,31 ton/ha. Potensi cadangan karbon terbesar pada stratum hutan mangrove rapat, hal ini disebabkan karena lokasinya tidak berhadapan langsung dengan laut lepas sehingga terhindar dari gelombang dan abrasi, serta jauh dari pemukiman masyarakat menyebabkan kondisi tutupan lahannya lebih terjaga dibandingkan stratum NDVI lainnya.