Abstract:
Kalimantan Selatan memiliki lahan basah terluas dengan keanekaragaman hayati yang dimanfaatkan masyarakat. Salah satunya adalah Sasirangan yang merupakan warisan budaya Kerajaan Banjar yang awalnya dibuat dengan pewarna alami. Seiring berjalannya waktu, sasirangan dibuat dengan menggunakan pewarna sintetis. Namun, terlepas dari bahaya pewarna sintetis yang menimbulkan pencemaran lingkungan, para perajin sasirangan kini kembali menggunakan pewarna alami untuk menjaga lingkungan. Tujuan pengabdian ini memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan bagi 55 orang ibu-ibu rumah tangga di Desa Tatah Mesjid Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan dalam membuat kain sasirangan dengan teknik sirang dan mencelup pewarna alami. Hasil pengabdian yang didapatkan oleh ibu-ibu rumah tangga terjadinya perubahan yang positif dalam teori dan praktik kain sasirangan pewarna alami. Tahapan teori dan praktik dilakukan secara langsung menjelaskan cara menjelujur dan mencelup kain berpola menggunakan bahan pewarna alami dari tanaman yang banyak didapat di sekitar rumah, seperti kunyit, bunga tarum atau indigofera, dan serbuk kayu ulin dengan bahan fiksasi terdiri kapur, tawas, dan tunjung. Setelah pengabdian ini ibu-ibu telah menguasai teknik sirang tradisional dan mencelup dengan baik sehingga menghasilkan kain sasirangan pewarna alami yang bernilai tinggi dengan motif-motif kekinian.