Abstract:
Latar belakang dari penelitian ini adalah pentingnya penerimaan sosial terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sebagai salah satu unsur kunci dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif dan suportif. Meskipun implementasi pendidikan inklusi telah dijalankan di berbagai sekolah, namun masih ditemukan beragam respons dari warga sekolah terhadap keberadaan ABK yang dapat mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap secara mendalam bagaimana sikap warga sekolah, termasuk guru, siswa reguler, tenaga kependidikan, orang tua siswa reguler, serta masyarakat sekitar, terhadap keberadaan ABK di SMAN 1 Karang Intan Kabupaten Banjar.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Validitas data diperkuat melalui triangulasi teknik dan sumber. Metodologi Penelitian menunjukkan bahwa sikap warga sekolah terhadap ABK terdiri dari tiga dimensi utama, yaitu aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), dan konatif (tindakan). Sebagian besar responden menunjukkan sikap positif, meskipun masih terdapat indikasi stereotip dan keterbatasan pemahaman yang menyeluruh. Faktor-faktor seperti empati individu dan budaya inklusi di sekolah turut mempengaruhi pola sikap yang terbentuk.
Penelitian ini merekomendasikan pentingnya peningkatan edukasi, pelatihan, dan program yang berkelanjutan untuk mendorong tumbuhnya sikap inklusif yang lebih kuat dari seluruh elemen warga sekolah, sehingga keberadaan ABK dapat diterima sepenuhnya tanpa diskriminasi dan sekolah menjadi lingkungan belajar yang adil serta mendukung untuk semua siswa.