Abstract:
Penggunaan alat tangkap pukat hela (trawl) masih dijumpai di wilayah pesisir Kalimantan Selatan.Meskipun telah dilarang melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/PERMEN-KP/2015. Di Kabupaten Tanah Laut, alat tangkap ini dikenal sebagai lampara yang secara operasional memiliki karakteristik serupa dengan trawl. Keberadaan lampara menimbulkan permasalahan dari aspek legalitas, ekologi, dan sosial, sehingga diperlukan upaya konversi ke alat tangkap yang lebih ramah lingkungan, salah satunya gillnet. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian kebutuhan area kerja (working area) pada kapal gillnethasil redesainkapal lampara. Metode yang digunakan adalah rekayasa desainmelalui pengubahan general arrangementdan tata letak area kerja kapal lampara agar sesuai dengan kebutuhan operasional kapal gillnet. Data yang digunakan terdiri atas 34 kapal, dengan rincian 17 kapal lampara dan 17 kapal gillnet. Redesaindilakukan melalui penggambaran ulang general arrangementuntuk menyesuaikan tata letak area kerja berdasarkan acuan desain kapal gillnet. Analisis ketersediaan area kerja dilakukan dengan membandingkan luas area bebas yang tersedia dan kebutuhan area kerja anak buah kapal (ABK). Hasil analisis two-step clusterterhadap rasio ukuran utama menunjukkan bahwa kapal lampara dan kapal gillnetmemiliki tingkat kemiripan yang tinggi, sehingga secara teknis relevan untuk dialihfungsikan menjadi kapal gillnet. Ketersediaan working areapada kapal gillneteksisting sebesar 2,10 m², sedangkan pada kapal gillnethasil redesainmencapai 4,3 m² dengan area bebas sebesar 3,3 m². Hasil ini menunjukkan bahwa ketersediaan area kerja pada kapal gillnethasil redesainmasih mencukupi untuk pengoperasian oleh dua orang ABK.