Abstract:
Lahan gambut memiliki sifat fisik yang sulit mempertahankan kelembaban, dikenal sebagai kering tidak balik (irreversible drying), sehingga tidak dapat berperan optimal sebagai koloid organik. Kondisi tersebut, ditambah rendahnya ketersediaan unsur hara makro (K, Ca, Mg, P) dan mikro (Cu, Zn, Mn, B), pH tinggi, serta kejenuhan basa rendah, menyebabkan produktivitas lahan gambut sangat terbatas. Di Kelurahan Landasan Ulin Barat, kelompok tani “Berkat Karya” mengatasi kendala ini dengan membentuk sistem drainase/kanal dan guludan (galengan) sehingga lahan gambut dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman sayuran, hortikultura, dan tanaman keras. Namun, kelompok yang terdiri atas sekitar enam orang ini menghadapi masalah akses terhadap pupuk kimia yang sulit dan harganya relatif mahal. Di sisi lain, setiap musim panen, banyak limbah sayuran yang tidak terserap pasar justru terbuang sia‑sia. Untuk mengatasi kedua masalah sekaligus, dilakukan pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) dari limbah sayuran sebagai bahan baku lokal. Proses fermentasi selama minimal 21 hari dalam ember anaerob berkapasitas 35 liter menghasilkan ampas sekitar 5,5 liter dan POC sekitar 29,5 liter. POC yang dihasilkan siap digunakan setelah diencerkan dengan perbandingan 1 bagian POC : 4–5 bagian air sebagai pengganti pupuk kimia, sekaligus meningkatkan pemanfaatan limbah dan keberlanjutan budidaya di lahan gambut.