Repo Dosen ULM

Arkeologi Kepemimpinan Rosyanto Yudha Hermawan di Polda Kalsel

Show simple item record

dc.contributor.author PATHURRAHMAN, PATHURRAHMAN
dc.contributor.author FAHMANADIE, DADDY
dc.contributor.author HAIRINI, SITI MAULIANA
dc.date.accessioned 2026-02-18T07:12:29Z
dc.date.available 2026-02-18T07:12:29Z
dc.date.issued 2025-05-30
dc.identifier.isbn 978-634-7195-25-8
dc.identifier.uri https://repo-dosen.ulm.ac.id//handle/123456789/37080
dc.description.abstract Studi kepemimpinan berbasis observasi/semi-etnografi yang disajikan dalam buku ini menjadi lompatan berharga dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam disiplin ilmu-ilmu sosial. Hal ini dikarenakan penggunaan metode induksi sebagai basis penalaran ilmiahnya yang dikenal luas memiliki keunggulan. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Francis Bacon pada tahun 1620 melalui bukunya yang termasyhur “Novum Organun Scientiarum” (Instrumen Baru Ilmu Pengetahuan). Melalui karyanya tersebut, Bacon menerangkan bahwa keberadaan ilmu pengetahuan perlu dilepaskan dari “idolaidola”, berupa filsafat yang diwarsikan tanpa melalui kritik, prasangka-prasangka, pengalaman subjektif maupun pandangan dan perkataan yang diterima tanpa pengujian. Dalam menggali pengetahuan ilmiah, tingkat keberhasilan sebuah studi menurutnya sangat ditentukan dari metode yang berbasis pada data-data empiris, atau istilah lainnya disebut sebagai induktif (Hardiman, 2007). Metode induktif merupakan proses penalaran berdasarkan kesimpulan yang diperoleh melalui data-data hasil pengamatan. Sehingga, titik tekan logika/penalaran induktif terletak pada pengalaman langsung tentang suatu fenomena melalui observasi dan eksperimen. Sudut pandang tentang metode induksi inilah yang menempatkan Francis vi Bacon sebagai filsuf yang sangat dihormati sekaligus peletak dasar metode ilmiah modern. Beranjak lebih dari satu abad setelah Bacon mempopulerkan metode induktifnya, di periode 1798-1857 muncullah Auguste Comte yang memperkenalkan ajarannya tentang filsafat positif dalam tulisannya yang bertajuk “Cours de Philosophie Positive” yang diterbitkan pada 1842. Melalui ‘filsafat positif”-nya ini, Comte menekankan pentingnya menyusun fakta-fakta empiris dalam membangun sebuah teori. Empirisme merupakan sumber pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman. Sementara makna “positif” dapat diartikan sebagai fakta-fakta yang telah diamati, atau dengan istilah lain positif juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang bersifat faktual maupun berdasarkan fakta lahiriah. Sehingga Comte dengan lantang menggelorakan ajarannya bahwa ilmu pengetahuan yang sejati itu bersifat positif, yakni yang berbasis pada kenyataan faktual/lahiriah maupun sebuah pengalaman. Dalam konteks inilah, kami selaku penulis berupaya untuk mengedepankan metode induktif dalam mencermati dan menganalisis aktifitas keseharian Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K.,S.H., M.H. selaku Kapolda Kalimantan Selatan. Kami berharap melalui buku berbasis riset ini, mampu memberikan sumbangsih dalam pengembangan studi-studi pada topik pemimpin dan kepemimpinan. Selain itu kami juga berharap pengalamanpengalaman dari kepemimpinan Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K.,S.H., M.H., yang termuat di dalam buku ini dapat menjadi referensi dalam studi-studi kepemimpinan vii selanjutnya, khususnya terkait topik kepemimpinan organisasi di sektor publik maupun kepemimpinan di institusi kepolisian di era disrupsi seperti sekarang ini. en_US
dc.publisher ULM Press en_US
dc.subject ARKEOLOGI KEPEMIMPINAN ROSYANTO YUDHA HERMAWAN DI POLDA KALSEL en_US
dc.title Arkeologi Kepemimpinan Rosyanto Yudha Hermawan di Polda Kalsel en_US
dc.type Book en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

  • Buku [1641]
    Repositori untuk bidang buku

Show simple item record

Search DSpace


Browse

My Account