| dc.description.abstract |
Studi kepemimpinan berbasis observasi/semi-etnografi
yang disajikan dalam buku ini menjadi lompatan berharga
dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan,
khususnya dalam disiplin ilmu-ilmu sosial. Hal ini
dikarenakan penggunaan metode induksi sebagai basis
penalaran ilmiahnya yang dikenal luas memiliki keunggulan.
Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Francis Bacon
pada tahun 1620 melalui bukunya yang termasyhur “Novum
Organun Scientiarum” (Instrumen Baru Ilmu Pengetahuan).
Melalui karyanya tersebut, Bacon menerangkan bahwa
keberadaan ilmu pengetahuan perlu dilepaskan dari “idolaidola”, berupa filsafat yang diwarsikan tanpa melalui kritik,
prasangka-prasangka, pengalaman subjektif maupun
pandangan dan perkataan yang diterima tanpa pengujian.
Dalam menggali pengetahuan ilmiah, tingkat keberhasilan
sebuah studi menurutnya sangat ditentukan dari metode
yang berbasis pada data-data empiris, atau istilah lainnya
disebut sebagai induktif (Hardiman, 2007).
Metode induktif merupakan proses penalaran
berdasarkan kesimpulan yang diperoleh melalui data-data
hasil pengamatan. Sehingga, titik tekan logika/penalaran
induktif terletak pada pengalaman langsung tentang suatu
fenomena melalui observasi dan eksperimen. Sudut pandang
tentang metode induksi inilah yang menempatkan Francis
vi
Bacon sebagai filsuf yang sangat dihormati sekaligus peletak
dasar metode ilmiah modern.
Beranjak lebih dari satu abad setelah Bacon
mempopulerkan metode induktifnya, di periode 1798-1857
muncullah Auguste Comte yang memperkenalkan ajarannya
tentang filsafat positif dalam tulisannya yang bertajuk “Cours
de Philosophie Positive” yang diterbitkan pada 1842. Melalui
‘filsafat positif”-nya ini, Comte menekankan pentingnya
menyusun fakta-fakta empiris dalam membangun sebuah
teori. Empirisme merupakan sumber pengetahuan yang
diperoleh dari pengalaman. Sementara makna “positif” dapat
diartikan sebagai fakta-fakta yang telah diamati, atau dengan
istilah lain positif juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang
bersifat faktual maupun berdasarkan fakta lahiriah. Sehingga
Comte dengan lantang menggelorakan ajarannya bahwa ilmu
pengetahuan yang sejati itu bersifat positif, yakni yang
berbasis pada kenyataan faktual/lahiriah maupun sebuah
pengalaman.
Dalam konteks inilah, kami selaku penulis berupaya
untuk mengedepankan metode induktif dalam mencermati
dan menganalisis aktifitas keseharian Irjen Pol. Rosyanto
Yudha Hermawan, S.I.K.,S.H., M.H. selaku Kapolda
Kalimantan Selatan. Kami berharap melalui buku berbasis
riset ini, mampu memberikan sumbangsih dalam
pengembangan studi-studi pada topik pemimpin dan
kepemimpinan. Selain itu kami juga berharap pengalamanpengalaman dari kepemimpinan Irjen Pol. Rosyanto Yudha
Hermawan, S.I.K.,S.H., M.H., yang termuat di dalam buku ini
dapat menjadi referensi dalam studi-studi kepemimpinan
vii
selanjutnya, khususnya terkait topik kepemimpinan
organisasi di sektor publik maupun kepemimpinan di
institusi kepolisian di era disrupsi seperti sekarang ini. |
en_US |